IF ( 2024 )

IF ( 2024 )

Melalui If, John Krasinski yang menyutradarai sekaligus menulis naskah seolah ingin membuat film Pixar versinya (mungkin dengan tambahan inspirasi dari serial animasi Foster’s Home for Imaginary Friends). Keunikan dunia serta karakter, pula kemampuan filmnya mengaduk-aduk perasaan memang mengingatkan pada judul-judul milik rumah produksi tersebut, hanya saja dengan kualitas penceritaan yang lebih inkonsisten. 

Di dunia film initeman imajiner benar-benar eksis, dan mereka dipanggil IF (Imaginary Friends). Bentuknya beragam. Ada monster, naga, hantu, astronot, dan lain-lain sesuai dengan imajinasi bocah yang menjadi teman mereka. Apabila si bocah telah tumbuh dewasa, para IF bakal tak lagi bisa dilihat, kemudian memulai proses untuk menemukan partner baru. 

Fakta-fakta itulah yang dipelajari Bea (Cailey Fleming), gadis 12 tahun yang untuk sementara tinggal bersama neneknya (Fiona Shaw) karena ayahnya (John Krasinski) bakal menjalani operasi jantung. Di situlah Bea mulai mengalami peristiwa ajaib di mana ia bisa melihat para IF sejak pertemuannya dengan Cal (Ryan Reynolds), seorang pria yang bertugas menemukan pasangan baru bagi IF yang telah dilupakan oleh teman lamanya. 

Sedikit membahas karya-karya Pixar, salah satu keunggulan mereka adalah soal bangunan dunia yang luar biasa detail. Naskah Krasinski belum berada di level serupa. Banyak lubang bertebaran terkait rules di dunia ciptaan sang sineas. “Kenapa Bea bisa melihat semua IF termasuk yang bukan miliknya?” merupakan salah satu yang paling menonjol. 

Penyelamatnya adalah kemampuan Krasinski sebagai sutradara mengolah deretan momen menyentuh yang tak asal menguras air mata, tapi turut didukung keindahan estetika. Sebutlah beberapa sekuen imajinasi yang terselip di babak kedua. Kemunculannya mengacaukan aliran penceritaan, berpotensi memancing kebingungan bagi penonton anak yang juga merupakan target pasar film ini, namun tetap memiliki rasa berkat sensitivitas penggarapan Krasinski. Begitu pula epilognya yang tetap tampil amat manis walaupun melanggar (atau lebih tepatnya “terlalu menyederhanakan”) rules yang filmnya bangun sendiri. 

Musik buatan Michael Giacchino turut berkontribusi besar memberi dampak emosi. Inilah salah satu karya terbaik sang komposer dalam beberapa tahun terakhir. Sebagaimana scoring ikoniknya di Inside Out (2015), musik If memiliki efek magis yang bakal dengan cepat menempel di memori tiap penonton. 

Para pelakonnya tidak kalah berjasa. Cailey Fleming memancarkan kemurnian hati Bea, Ryan Reynolds kembali piawai menggabungkan kejenakaan dengan kehangatan, bahkan John Krasinski dengan screen time terbatas mampu mencuri perhatian sebagai sosok ayah yang enggan memandang dunia melalui kacamata negatif. Belum lagi jajaran pengisi suara bertabur bintang yang menghidupkan para IF dengan ragam wujud aneh mereka.

Desain karakternya yang kreatif patut diberi pujian, meski di paruh akhir, terungkap bahwa desain yang didominasi makhluk aneh tersebut juga jadi cara curang guna mengalihkan perhatian penonton dari twist yang sebenarnya tidaklah sedemikian mengejutkan. 

Di luar berbagai kekurangan naskahnya, kemampuan If memancing haru jelas pantas disebut “kelas satu”. Sebuah kisah yang bakal terasa dekat justru bagi orang dewasa, yang di tengah kemonotonan hari-hari mereka, sesekali memerlukan pelukan hangat dari teman lama yang tak semestinya dilupakan. 

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *